Monday, 6 May 2013

MENGGENGGAM ANGIN



Pagi yang cerah, beserta fajar yang masih malu-malu keluar dari peraduannya bersama embun yang masih hinggap pada daun-daun teh dan pepohonan lainnya. Aku berlari dan bernyanyi dengan penuh ceria dalam bentangan luas hijau kebun teh yang berada di kanan dan kiriku. Singkat cerita namaku Utomo, aku siswa kelas 12 SMA. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat harmonis, namun ketika usiaku menginjak 4 tahun ayahku berpulang ke pangkuan-Nya, meninggalkan aku dan ibuku. Sejak saat itu aku mulai mengerti akan arti kehilangan seorang yang aku cintai.
Aku berlari ke atas Bukit dengan berangan mengejar angin. Aku  memandangi luasnya kebun teh yang ada di Desaku di bawah sebuah pohon yang sangat rindang. Aku berjanji dalam diriku, aku akan berusaha sekuat yang aku bisa untuk membahagiakan orang tuaku dan Desaku yang aku cintai ini. Udara Desaku sangat sejuk, dengan pepohonan yang rindang dan masyarakatnya yang ramah. Dalam pandanganku aku selalu merasa senang dan gembira tanpa ada rasa takut akan sesuatu kegagalan. Aku selalu berkata dalam hatiku, “wahai angin aku akan mengejarmu, sampai kapanpun aku akan berusaha untuk mengejarmu walau aku tau ini tak mudah untukku”.
Mungkin memang benar aku hanyalah seorang anak desa yang sederhana dengan kesehariannya hanya belajar dan membantu orang tua di Kebun milik saudagar kaya raya dari Jakarta. Namun aku yakin dengan penuh semangatku aku selalu berkata, “anginku” akan aku dapatkan. Sekarang aku sedang menunggu detik-detik kelulusanku. Setiap hari aku selalu datang ke Kebun teh ini untuk membantu orang tuaku memetik daun teh yang masih segar dan sesudahnya pergi ke Bukit ini untuk beristirahat sekedar melepas lelahku degan merebahkan badanku di bawah pohon itu. Aku selalu memandang langit untuk berangan besar. Namun, sekarang aku hanya dapat menulis semua yang ada di benak fikiranku di dalam sebuah kertas. Entah ini hanya anganku atau sekedar imajinasi yang tak mungkin aku capai.
Hari demi hari aku lewati dengan penuh gembira, sampai saat yang aku nantikan tiba. Hari dimana aku dinyatakan sebagai seseorang siswa yang lulus dari Ujian Nasional atau tidak. Hatiku sangat kacau, jantungku berdebar dengan sangat cepat. Layaknya tabuan gendang di dalam suatu medan pertempuran zaman dinasti kuno dahulu kala. Dari kejauhan aku melihat kerumunan siswa/i di depan Ruang Kepala Sekolah. Semuanya melihat papan pengumuman dan mengekspresikan kegembiraan mereka dengan cara bersujud, tertawa bahkan sampai menangis tersedu. Dengan langkah yang tersendat, akhirnya aku mencoba untuk memberanikan diriku melihat hasil yang selama ini ingin aku ketahui. Aku mulai mencari namaku dari urutan terbawah karena aku fikir aku berada di jejeran terbawah dari para murid di SMAku ini. Jemariku mulai bermain dan mencari keberadaan namaku dari bawah hingga atas. Maklum saja soal prestasi aku tidak terlalu mendukung, tetapi hanya saja aku memiliki mimpi yang besar untuk aku wujudkan dan aku yakin itu akan menjadi kenyataan. Seperi yang dikatakan oleh Eleanor Roosevelt “The future belongs to those who belive is the beauty of their dreams”. Aku yakin dengan apa yang dikatakanya itu benar dan aku percaya bahwa masa depan menjadi milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi.
 Jujur aku merasa bingung, resah gunda gulana karena namaku tidak ada di paling bawah. Aku langsung syok, rasanya seperti rotasi Bumi ini berhenti berputar, ruang udara menjadi hampa, pandanganku pun gelap gulita tatkala itu. Dari arah belakangku ada seseorang yang menepuk bahuku, seakan membuatku tersadar. Lantas ia membisikan kepadaku, “namamu ada di urutan paling atas, tepat diatas namaku”. Aku menoleh kepadanya, ternyata yang mengatakan itu kepadaku adalah Hardianti. Dia adalah wanita paling keren, cantik dan paling pandai di sekolahku. Setiap laki-laki yang meihatnya aku yakin akan jatuh cinta kepadanya, lantas saja dia adalah seorang anak dari saudagar kaya yang memiliki Kebun Teh yang setiap hari aku dan keluargaku kelola. Namun bukan itu yang sebenarnya menjadi daya tarik yang sesungguhnya dari seorang Hardianti. Dia adalah sesosok keturunan Indo-Belanda, jadi wajar ketika dia memiliki wajah yang cantik, kulit yang bersih dan rambut pirang yang teturai indah. Aku sebenarnya memiliki rasa suka kepadanya, tetapi apalah daya aku hanyalah seorang yang tidak sederajat dengan dia. Aku tidak terlalu menhiraukan perasaanku kepadanya karena aku fikir banyak hal yang lebih penting dibandingkan dengan cinta.
Aku melihat pada lembaran kertas dan pada tempat yang ditunjukan kepadaku tadi, aku tidak percaya ternyata itu benar. Aku melampaui seorang yang tidak pernah aku bayangkan untuk aku lampaui sebelumnya. Dari sini aku mulai mempercayai pendapat seorang Einstein yaitu “everything is a miracle”. Maklum aku adalah seorang yang sering membaca buku-buku tentang kata-kata bijak dari tokoh-tokoh yang paling berpengaruh di Dunia. Aku sangat senang melihat pemandangan ini, tanpa sadar aku memeluk Hardianti. Dengan muka yang memerah aku melepaskan pelukanku, lalu meminta maaf kepada Hardianti.
Utomo              : eh,, maafkan aku ya Har ?
Hardianti          : (dengan muka yang memerah kemudian mejawab dengan terpatah-patah) Ia, tidak apa-apa, lagi pula ini tidak sengaja.
Setelah meminta maaf aku berlari dengan penuh semangat memberi tahu kepada ibuku tercinta. Aku langsung menuju ibuku yang sedang mengumpulkan hasil petikan daun tehnya di lumbung perkumulan.
Utomo  : Ibu aku lulus, aku lulus. (sambil berteriak dari kejauhan)
Ibu       : Apa mas, kamu ngomong apa ibumu ga denger kamu ngomong apa ?
Utomo  : Terimakasih ibu aku lulus ujian. (langsung sujud di kedua kaki ibu)
Ibu       : Allhamdulillah, akhirnya Tuhan mendengarkan doa ibumu ini? (mengelus kepalaku)
Utomo  : Iya ibu, sekali lagi aku mengucapkan terimakasih kepada ibu.
            Apa ada yang bisa tomo bantu ibu ?
Ibu       : Sudah tidak perlu, mainlah dahulu rayakan dengan teman-teman seusiamu. Setelah itu cepatlah pulang, ibu menunggumu.
Utomo  : Baiklah ibu kalau begitu, assallammualaikum.
Ibu       : Waalaikumsallam.
Aku berlari menuju Bukit yang sering aku datang dan aku berteriak dengan sangat kencang, “aku datang angin, ayah lihatlah kini anakmu sudah beranjak dewasa dan akan membuktikan kepada Dunia bahwa aku bisa menjadi bagian dari suatu peradaban”. Lalu aku berbaring dan tertidur sejenak di tempat yang sangat sejuk itu. Ketika aku terjaga dari tidurku, aku melihat sesosok wanita cantik yang tidak asing lagi. Ternyata benar dia Hardianti.
Utomo              : Sejak kapan non ada disini ?
(Beginilah perjanjian antara aku dan Hardianti, jika si Sekolah aku tidak boleh memanggilnya nona. Tetapi jika diluar Sekolah aku boleh memanggilnya nona. Padahal dia sendiri tidak perrnah menyuruhku untuk memanggilnya nona.  Hanya saja aku sadar siapa aku dan siapa dia).
Hardianti          : Sudah mulai sekarang kamu tidak perlu memanggilku nona segala, panggil saja nama asliku.
Utomo              : Tetapi aku tidak enak oleh tuan non jika ketauan.
Hardianti          : Hiraukan saja ayahku, aku paling tidak suka dipanggil seperti itu, coba katakan sekali lagi kepadaku ?
Utomo              : Baik non, eh maksudku Hardianti.
Hardianti          : Nah seperti ini yang aku inginkan sejak awal aku mengenalmu, sedang apa kamu disini Tomo ?
Utomo              : Aku tadi hanya kebetulan tertidur disini Har.
Hardianti          : Bohong, setiap hari kamu kesini. Aku dapat melihatmu dari kamarku dengan teropong. (memang kenyataannya benar rumah Hardianti sangatlah luas dan tinggi. Walau hanya di huni oleh beberapa orang saja. Kedua orang tuanya hanya setiap akhir pekan mengunjunginya).
Utomo              : Baiklah. Aku akan berbicara jujur kepadamu, kamu tau aku sering menunjukan karya-karya indah di depan kelas. Disinilah tempatku menumpahkan segala keluh kesahku. Dan mempresentasikannya di depan kelas, aku bebas berteriak sesuka hatiku setiap hari. Aku bisa bernyanyi dengan pepohonan ini, bermain dengan angina dan masih banyak hal lain yang aku lakukan disini.
Hardianti          : Enak sekali hidupmu tomo. Aku selalu terkekang seperti burung yang ada di dalam sangkarnya. Setiap hari aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan sedang bermain di tempat ini.
Utomo              : bukannya di rumahmu enak ya. Rumahmu itu sangat luas. Mengapa tidak kau jadikan sebagai lahan untuk dijadikan sebuah permainan yang sangat menyenangkan.
Hardianti          : Tidak seperti yang kau bayangkan Tomo, aku hanya ingin bermain dengan teman seusiaku. Tetapi tidak di dalam rumahku, aku ingin bermain di alam bebas dan tidak ada yang dapat mengekangku.
Utomo              : Ternyata menjadi anak dari seorang saudagar kaya raya itu tidak mengasyikkan. Aku baru menyadarinya sekarang, aku fikir dengan memilki segalanya dan mambeli segalanya aku bisa merasa puas. Tetapi sebenarrnya itu hanyalah kesenangan hampa yang tak nyata.
Hardianti          : Mengapa kamu diam Tomo ?
Utomo              : Tidak Har, tidak. Aku barusan mendapatkan inspirasi baru untuk masa depanku kelak.
Hardianti          : memangnya apa yang tadi kau fikirkan ?
Utomo              : Jika aku berhasil mengejar anginku, aku tidak akan membebani hal-hal yang tidak semestinya aku bebani kepada anak keturunanku kelak.
Hardianti          : Hehehe itu bagus. (Dengan muka yang memerah dia tertawa kecil). Memangnya apa yang kamu maksud dengan anginmu itu ?
Utomo              : Tidak. Mungkin itu hanya sebuah angan-angan yang tidak akan pernah aku capai saja Har.
Hardianti          : Memangnya kamu ingin menjadi apa ?
Utomo              : Seorang Diplomat.
Hardianti          : Waw…. (terkejut)
Kamu serius dengan apa yang kamu katakana barusan ?
Utomo              : Iya, memangnya kenapa ? Sudah aku duga kamu juga akan menertawakanku sama seperti yang lainnya.
Hardianti          : Memangnya aku tetawa ya Tomo ? Aku tidak tertawa. Untuk apa aku menertawakanmu ? Bukankah seharusnya kamu bersyukur. Lebih baik dibenci oleh banyak orang karena sesuatu yang kamu miliki, dari pada kamu dicintai tetapi tidak memiliki apapun.
Utomo              : Aku terdiam namun haiku berbicara. “aku tidak menduga, kata-kata yang keluar dari bibir indahnya itu sungguh sangat mempesonaku”.
Hardianti          : Kamu ingat apa yang dikatakan oleh seorang Hary Emerson Fosdick dalam sebuah bukunya. Beliau mengajarkan kita tentang konsep hidup yang sangat sederhanya, yakni seorang yang memilih untuk berperan dan memulai yang akan dimainkan adalah orang yang akan menentukan bagaimana harus berakhirnya. Tetapi kamu juga harus mengingat suatu hal, kalau kail panjang sejengkal jangan laut hendak diduga.
Utomo              : Aku balik bertanya kepadanya, mengapa aku tidak boleh melampaui batasku ? bukankah seharusnya itu yang aku lakukan untuk menggapai anginku ?
Hardianti          : aku tidak menginginkannya.
Utomo              : mengapa kamu tidak menginginkannya, apa pedulimu kepadaku. (aku mulai naik pitam)
Hardianti          : Because Ich Lieben Dich. (berlari meninggalkanku)
Aku terdiam seolah aku ini adalah sebuah pupet. Dibawah sebuah pupet master yang bernama cinta. Tidak aku sangka ternyata dia punya rasa yang sama seperti apa yang selama ini aku rasakan. Tetapi aku tetap mengerti akan keadaan ini, lebih baik aku tidak menghiraukan ini. Mentari kembali pada peraduannya karena sudah lelah hari ini menemaniku. Aku bergegas pergi ke rumah, menemui ibuku yang mungkin sudah menyiapkan sesuatu untukku.
Sesampainya di Rumah, aku membersihkan tubuhku karena seharian telah banyak bermain dengan anginku. Setelah itu aku menemui ibuku, karena ingin memberi tahuku sesuatu.
Utomo  : Ibu, ada apa gerangan ibu memanggilku ? sepertinya ada yang harus di bicarakan ?
Ibu       : Ia mas, ibu harus memberi taumu tentang satu hal ini.
Utomo  : Apa ibu itu emangnya ?
Ibu      : Ibu nempaknya tidak bsa menyekolahkanmu lebih tinggi lagi mas, ibu tidak memiliki uang.
Utomo  : Aku terbujur kaku, seolah jantungku berhenti berdetak. Aku menangis dan berlari sekencang mungkin keluar dari Rumah menuju Bukit tempatku mencurahkan semuanya.
Aku berteriak dan menangis, “Tuhan, mengapa Enggau kejam, tidak adil dengan apa yang Engkau berikan kepada orang-orang seprtiku, sebenarnya Engkau juga tahu tujuanku begitu mulia, tetapi mengapa ini bisa terjadi kepadaku”. Aku termenung dibawah sinar rembulan yang menyinari malam itu. Namun sayang aku tidak dapat menikmati indahnya rembulan karena hatiku yang blum bisa menerima keadaan yang tidak adil ini. Aku berbaring dan menghentikan tangisanku, memandang langit yang penuh dengan bintang. Aku lihat bintang kejora yang berbeda dengan yang lainnya karena lebih terang diantara yang lainnya. Dari situ aku mendapat inspirasi baruku, “berbeda itu sangat wajar, mungkin aku tidak perlu meneruskan sekolahku. Namun aku tidak akan menjadi apa-apa jika aku tidak bejuang dan hanya berbaging saja disini. Aku harus berjuang demi masa depanku, agar dapat menjadi bintang yang paling terang diantara bintang terang lainnya. Layaknya bintang kejora, dengan perbedaan ini justru akan terasa sangat indah.”. aku sangat ingat dengan apa yang diucapkan oleh Confucius, “orang yang melakukan kesalahan dan tidak mencari jawaban, maka ia melakukan satu kesalahan lagi”. Sejak ini aku putuskan untuk menjadi seorang pemain bukan seorang penonton semata.
Sinar mentari yang baru keluar dari peraduannya menyadarkanku, kalau aku terlalu lama barda disini. Aku terbangun mendengar indah kicauan burung. Udara yang sangat sejuk membuatku kembali ke renunganku, menyadari tentang keindahan Tuhan. Aku sadar apa yang aku lakukan semalam ternyata salah dan mungkin menyakitkan ibuku. Aku kembali ke Rumah untuk meminta maaf kepada ibuku. Ibu maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk melukai perasaan ibu. Ibu hanya tersenyum memandangku, kemudian berkata “mandilah mas tubuhmu terlihat sangat kotor”.
Setelah menyelesaikan mandi aku meminta izin kepada ibuku untuk pergi bersama temanku yang kebetulan sudah lulus dari dua tahun yang lalu untuk bekerja bersamanya.
Utomo  : Ibu aku mau pamit pergi ke Kota untuk mencari pengalaman.
Ibu       : Memang kamu mau kerja apa mas ?
Utomo  : Aku mau menjadi kodektur saja ibu, ikut mecari nafkah bersama Febi.
Ibu       : Lalu dengan apa kamu akan pergi ke kota ? Ibu tidak memiliki uang untuk memberimu ongkos kesana.
Utomo  : Ibu tidak perlu khawatir tentang itu, Febi akan pulang dan menjemputku.
Ibu       : Yasudah baiklah ibu tidak bisa melarangmu.
Utomo  : terimakasih ibu
Setelah itu aku kembali mengunjungi Bukit Angin milikku, aku duduk di bawah rindangnya pohon dan mulai menulis semua kehidupan di kertas. Aku mulai berfikir untuk tulisanku dan aku kembali bermain dengan anganku. Bayak kegagalan yang tercipta di dunia ini karena mereka tidak mau memulai apa yang mereka inginkan. Aku membulatkan tekatku untuk memberanikan diriku mengunjungi kota, aku yakin tangan yang menggenggam tidak mungkin menerima.
Tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar suara yang tidak asing lagi untukku.
Febi     : Hay Tomo, sudah lama juga ya aku tidak menemanimu disini. (dulu aku dan Febi sering bermain di tempat ini, bahkan sebelum aku ke tempat ini dia adalah orang yang pertama kesini).
Utomo  : Sudah aku duga ternyata itu kau. Memang sudah sangat lama kamu tidak mengunjungi Desa lagi.
Febi     : Apa kabar kamu dan ibumu Tom ?
Utomo  : Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana ?
Febi     : Seperti yang kau lihat kawan aku baik-baik saja.
Utomo  : Ayo ke Rumahku, mungkin kamu bisa sejenak beristirahat dan mungkin saja masih ada makanan yang bisa aku berikan kepadamu karena aku melihat dari wajahmu yang menunjukan wajah kealaparan.
Febi     : Hahaha kamu tahu saja Tomo kalau aku lapar.
Utomo  : Ah itu sudah menjadi kelakuanmu. Kamu fikir aku baru mengenalmu kemarin sore apa.
Kami akhirnya bergegas menuju Rumahku.
Utomo  : Ibu lihat siapa tamu yang datang berkunjung kesini ?
Ibu       : Memangnya siapa Tomo ? (dari dalam dapur)
Utomo  : Lihatlah ibu cepat.
Ibu       : Alah-alah ternyata tamu dari kota. Sejak kapan kamu pulang nak ?.
Febi     : Baru saja tadi bu, aku langsung mengunjungi Tomo di Bukit. Lalu Tomo mengajakku pulang katanya ibu masak masakan enak.
Ibu       : Ia kebetulan sekali kamu datang jadi kita bertiga bisa memakannya bersama. Tomo tolong ambilkan makanannya.
Utomo  : Baiklah ibu aku akan mengambilkan makanan itu.
Febi     : Ibu aku juga mau membantu Tomo mengambilkan makanannya.
Kami menyantap makanan sembari berbincang dan berbagi pengalaman. Febi memberi tahuku kalau hidup di Kota itu tidaklah semudah menulis di kertas, apa lagi menjadi seorang supir benar-benar dibutuhkan kesabaran yang sangat besar dan kepala yang dingin untuk memecahkan masalah. Tetapi tetaplah aku tidak memperdulikannya selagi itu belum pernah aku alami. Aku tetap membulatkan tekatku untuk bergabunng bersama Febi. Setelah kami semua selesai makan dan semua sudah di rapihkan. Tibalah saatnya aku dan Febi pergi meninggalkan ibuku.
Febi     : Baiklah ibu saatnya aku harus kembali lagi ke kota. Tomo apakah kamu sudah mempersiapkan semuanya.
Utomo  : Belum, sebentar aku mau mempersiapan beberapa baju terlebih dahulu.          
Ibu       : Nak Febi ibu titip Tomo kepadamu ya ?
Febi     : Tidak perlu merasa sungkan seperti itu ibu, lagi pula Tomo sudah aku anggap sebagai adikku sendiri.
Ibu       : Syukurlah kalau seperti itu ibu merasa tenang. Ibu boleh meminta nomor ponselmu Feb ?
Febi     : Oh ia ibu silakan 085224……..
Utomo  : Aku selesai Feb, Ibu aku meminta doa dan restumu.
Ibu       : Pergilah anakku, Ibu tidak akan melarangmu.
Kami    : Assalammualaikum
Ibu       : Waalaikumussalam
Dengan sangat merindu aku angkatkan kakiku dari Rumah yang aku cintai dan Desa yang selalu aku banggakan. Aku berjalan di hamparan Kebun Teh, dan melihat keatas Bukit, seolah aku berada disana sembari berkata, “perjalanan panjangku dimulai dari satu langkah awalku meninggalkan Desaku yang aku cintai”. Melewati rumah dari orang yang aku cintai dan berkata, “aku pasti kembali”.
Melalui perjalanan yang amat melelahkan akhirnya aku berhasil sampai ke Kota. Kota Bandung memang salah satu kota yag di perhitungkan dari dahulu kala hingga sekarang. Sepanjang perjalanan aku hanya dapat memandang keindahan yang tercipta di hadapanku. Aku sangat menikmati kehidupanku menjadi seorang kenek Bus jurusan dalam Kota Bandung. Hari-hariku aku lewati degan memberikan pelayanan yang memuaskan untuk seluruh penumpangku, mulai dari senyuman, kata-kata indah dan sebagian lainnnya.
Selang satu bulan aku berada disini, aku mendapat kabar dari Desa melalui HP Febi. Ibuku menyuruhku untuk pulang sebentar, katanya ada hal penting yang harus dibacarakan oleh aku. Kemudian aku meminta Febi mengantarku pulang. Sesampainya di Rumah yang aku cintai, aku disuruh beristirahat sebentar dan keesokan harinya harus menghadap majikanku. Tentu saja dia adalah ayah dari Hardianti.
Keesoan harinya aku dan ibuku mengunjungi kediaman dari Hardianti untuk menemui majikan kami. Aku merasa sangat ketakutan, aku fikir akan terjadi hal yang sangat tidak mengenakkan namun aku tetap positive thinking. Ketika kami masuk ke dalaman kediamannya, aku kaget ternyata majikanku menawarkanku sebuah behasiswa ke luar negri. Tanpa fikir panjang aku langsung menerima tawaran yang beliau tawarkan kepadaku.
Setelah melewati tahapan tes yang amat panjang dan berkutat serta melilit, akhirnya aku berhak menerima behasiswa tersebut. Hanya ada 3 orang yang menerima behasiswa Oxford University dari beribu orang yang mendaftar dan salah satu dari 3 orang itu adalah aku. Tak hentinya aku mengucapkan syukur kepada Tuhan yang menciptakan segala keindahan dibalik kesusahan. Aku takan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah ada di depan mataku. Sekali lagi aku berkata, “angin aku semakin dekat denganmu”.
6 tahun aku berhasil menyelesaikan studi S-2ku dan kembali untuk mengabdi kepada negriku. Terutama kepada Desa yang aku cintai. Sesampainya di Desa, aku mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari warga desa. Aku lihat sudah banyak perubahan yang dialami oleh Desaku ini. Namun tidak dengan Bukitku. Bukit ini tidak pernah lekang oleh pandanganku walau aku jauh dari mataku. Aku merebahkan tubuhku dan melihat keatas langit dan berkata, “angin selangkah lagi aku akan menggenggammu”. Aku sudah mengajukan surat rekruitment pada Kedutaan Besar Indonesia untuk Inggris. Tanpa aku sadari disini aku tidak sendiri, Hardianti sudah menungguku sejak lama. Ia datang kemari untuk mengucapkan selamat untukku dan mengajakku untuk menghadiri jamuan makan malam di kediamannya.
Ketika aku menghadiri jamuan ini, aku memberanikan diri untuk meminang Hardianti. Aku tahu memang sangat keterlaluan namun inilah saat yang tepat untuk menyatakannya.
Utomo                          : Tuan, apa aku boleh berbica sesuatu disini ?
Ayah Hardianti             : Silakan, memang apa yang ingin kamu bicarakan Utomo ?
Utomo                          : Maaf sebelumnya, mungkin saya lancang dan tidak tahu aturan dan adab tetapi ini sangat ingin aku katakan. Bolehkah aku menikahi putri anda tuan ?
Ayah Hardianti             : Kalau bapa terserah kepada pilihan Hardianti saja. Bagaimana menurutmu nak ?
Hardianti                      : Terdiam dan hanya tersipu malu.
Sejak saat itulah ternyata Hardianti menerimaku sebagai suaminya dan menikah. Kami dikaruniai 3 orang anak, 1 orang pria dan 2 orang wanita. Anak priaku aku beri nama Angin. Disisi lain aku bekerja di Kedutaan Besar Indonesia untuk Inggris. Setiap 1 bulan sekali aku mengunjungi orang tuaku, istriku, anak-anakku dan mertuaku di Desa. Walau aku tahu jarak Indonesia dan Inggris tidak sedekat dari Desaku ke Kota Bandung. Di Desaku, aku membuat sebuah alat yang  membantu para warga desa. Aku pun tidak melupakan jasa dari seorang sahabatku Febi, aku mempekerjakannya sebagai seorang mandor yang mengawasi kinerja para peternak yang aku buka sebagai usaha sambilanku di Desa. Aku berdiri di atas Bukitku seperti apa yang biasa aku lakukan dan berteriak “angin akhirnya aku dapat menggenggammu”.

teman teman doakan saya..
semoga cerpen ini memenangkan lomba cerpen tingkat nasional
amin :)

Tuesday, 23 April 2013

Entah apa yang aku fikirkan sekarang


Hidupku memang begitu indah, layaknya seorang raja yang di kermuni harta kekayaan dan wanita yang cantik. Bisa di bilang seperti itu karena aku sendiri memiliki seorang peri kecil yang begiitu perhatian dan seorang bidadari yang mampuu mengajariku sebuah arti cinta yang sebennarnya. Aku tidak habisnya bersyukur tentang hal ini. memang sebernya sangat indah perkara ini, namun di suatu sisi lain aku sendiri tidak dapat menyangkal jika keduanya bertengkar karena aku. Aku sadar sebenarnya membuat dua orang wanita jatuh cinta pada saat yang sama itu sangat jahat. Tetapi aku tidak dapat memungkirinya memang aku ini butuh mereka untuk kelangsungan hidupku.
Akhirnya aku hanya berpasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku tau ini tidak akan berjalan mulus selamanya, kecuali memang aku menjadi seorang raja nantinya. Aku hanya berharap mendapat yang terbaik diantara mereka, entah kapan yang jelas hari itu akan datang menghampiriku aku yakin akan hal itu. Semoga tuhan membantuku untuk mendapatkan yang terbaik. Untuk peri kecilku maafkan aku, aku terlalu buruk untuk menjadi pendampingmu dan untukmu bidadariku yang cantik maafkan aku karena aku sendiri masih mencari satu yang pasti diantara kalian. Aku masih terlalu bodoh untuk memutuskan satu yang pasti diantara kalian. Yang perlu kalian tau adalah, aku menyayangi kalian.

Saturday, 20 April 2013

Mencari jarum dalam tumpukan jerami



Cerita ini bermula terjadi ketika ada sekelompok sahabat yang meninggali sebuah pondok pesantren yang sangat modern untuk mencari sebah pengalaman. Berbeda dengan pondok pesantren seperti yang dikenal masyarakat umumnya. Kehidupan kami disana terasa sangat mengasikkan awalnya. Disini terasa bebas tanpa adanya peraturan yang mencolok dan tiada sanksi yang tegas dari pondok tersebut. Singkat cerita kami bernama Nadal, Tomas dan Anjar. Kami juga tidak tau kenapa kejadian ini menimpa kami. Dan singkat perkenalan aku Nadal, aku terkenal orang yang sangat pendiam diantara yang lainnya. Selain itu aku yang paling pandai menimpan uang. Temanku bernama Tomas adalah seorang yang ceroboh, dia paling boros soal uang dan yang terpenting adalah makan menurutnya. Temanku yang bernama Anjar ini adalah orang yang paling aktif diantara kami. Dia selalu ikut kegiatan kemahasiswaan di kampus kami. Disini kami bertemu dan berbaur  dengan berbagai macam manusia yang beraneka ragam sifat dan bentuknya.
Sampailah pada suatu hari kami di datangkan oleh sebuah masalah. Tertanya uang yang aku simpan hilang, aku lantas bertanya kepada kedua temanku Tomas dan Anjar. Mereka juga hendaknya benar-benar tidak mengerti kenapa aku bisa sampai kehilangan uangku tersebut. Aku sendiri tidak habis fikir dengan yang terjadi kepadaku ini. Padahal uang yang aku taruh itu sangat aman menurutku, namun entahlah aku juga tidak tau bisa sampai terjadi seperti itu. Aku bertanya kepada semua orang yang berad di sekitarku. Baru perrtama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini. Aku juga sangat kecewa karena uang itu sendiri hendak aku jadikan sebuah modal usaha yang sangat menggiurkan. Aku tidak mengerti sesungguhnya sampai saat ini. Selang beberapa hari, temanku mengalami kejadian yang serupa dan berikutnya temanku yang satunya.
Akhirnya aku tidak tahan lagi dan melaporkan kejadian ini kepada sang pengurus. Aku juga tidak mendapatkan jawaban yang sangat pasti dari pihak pengurus tersebut. Aku akhirnya memutuskan untuk memurungkan diriku dan hanya bisa menuturkannya melalui tulisan demi tulisan yang bisa aku lontarkan. Aku berfikir, mengapa hal seperti ini dapat terjadi, padahal kami berada di pesantren yang katanya itu anak-anaknya jjur dan beragama seperti itulah. Kalau aku menuduh seseorang dalam penuduhanku aku sendiri tidak tau pasti siapa yang mngambil uang kami tersebut, hal ini membingungkan. Layaknya mencari jarum di tumpukan jerami. Hal ini memungkinkan untuk dicari, namun di suatu sisi lain juga tidak mudah untuk mencarinya. Akhirnya dari pada aku harus menusuk hidung seekor kerbau, lebih baik aku hanya diam. Darri sinilah aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hal ini untuk lebih lagi berhati-hati lagi terhadap dunia yang kejam ini dan tidak terlalu polos dengan keadaan sekitarku karena aku sendiri terpancing dalam keadaan  sekitarku sendiri.
            Andai aku bisa melihat apa yang terjadi, aku tidak akan marah pada orang yang mengambilnya. Hanya saja sangat kecewa karena telah menyiakan kebaikan dan kepercayaan yang telah aku berikan. Aku hanya berharap ada burung terbang yang pulang kembali ke sangkarnya. Walau aku tau itu tidak mungkin terjadi. Aku berimajinasi ketika aku menemukan burung yang lepas dari sangkar itu kembali dengan jarum yang aku cari dalam tumpukan jerami tersebut. Amin…..

Thursday, 18 April 2013

Akhir yang sebenernya aku ketahui


Hubunganku dengan pacarku sudah berada di ujung tanduk dan aku menyadarinya hubungan ini takan lama lagi akan segera berusai. Sempat aku ucapkan kata perpisahan untuknya dan aku mencari penggantinya. Aku berniat untuk menggantikannya dengan sesosok bidadari, dia itu temanku yang dapat menyebabkanku berubah menjadi lebih mengerti kehidupan dan aku dapat mengetahui arti hidupku yang sesuangguhnya seperti yang aku ceritakan di awal novel. Aku tau ini tidak adil, tetapi mau seperti apa lagi aku harus memilih satu yang pasti diantara keduanya.
Aku pilih sesosok bidadari itu untuk aku jadikan pendampingku suatu saat nanti, tetapi aku juga tidak mungkin secepat itu melupakan Hardianti, walau bagaimana pun dia adalah orang yang pernah menemaniku selama 18 bulan terakhir ini. Aku membuka diriku perlahan agar dapat bersatu dengan Imrani yang aku impikan. Demikian pula dengan apa yang di lakukan oleh sesosok bidadariku ini kepadaku, karena aku juga sering melukai hatinya.  Namun, Hardianti tidak pernah sudi kalau aku ini harus mencintai orang yang tidak ia sukai dan menjadi musuhnya selama ini. Aku bingung akhirnya aku mencoba merayu Hardianti dengan segala rayuanku, namun aku tetap berhubungan baik dengan sesosok bidadariku. Sampai pada suatu malam, aku mendapatkan pesan dari sesosok bidadariku itu yang berbunyi seperti ini, “kalau seandainya kamu masih berhubungan dengan dia, lebih baik aku yang harus pergi dan lanjutkan saja hubunganmu dengan dia sapai tiada rasa lagi antara kalian. Dan kembalilah padaku, carilah aku jika kamu sudah tak lagi bersama dengan dia”.
Aku menangis ketika aku menerima pesan darinya seperi ini. Aku merasa ada sesuatu yang menyentuh relung batinku saat itu. Aku yakin kalau ini akan menjadi kenyataan fikirku. Aku sendiri melakukan ini hanya untuk melindunginya dari orang kejam ini sebelum akhirnya dia salah mengerti semua ini. Aku tidak ingin kalau dia menjadi sasarannya. Aku sebenarnya melakukan ini terpaksa jika sampai Hardianti tau aku berhubungan dengan sesosok bidadariku pasti dia akan marah besar dan yang aku takutkan itu kalau dia benar-benar sampai kehilangan akal sehatnya dan melukai Imrani, inilah hal yang takan pernah aku maafkan untuk diriku sendiri.
Akhirnya aku meakukan hal yang fatal, aku juga tidak sengaja melakukannya karena aku ini benar-benar butuh uang. Karena hal ini aku berani mencoba menawari Hardianti kalau aku ini mau berbisnis pulsa dan aku memintanya kalau mau membeli pulsa belilah padaku saja. Hal ini aku lakukan semata-mata hanya untuk menambah uang untuk jajan dan tidak meminta lagi kepada orang tua. Dan bukan hanya itu, aku sedang dilanda musibah karena kehilangan banyak uang. Akhirnya dia curiga dan langsung menghujatku dengan makian yang amat mendalam.dia langsung mengancam akan memukuli sesosok bidadari manisku itu, ha ini serentak tidak akan aku biarkan. Tetapi aku mencoba membari tau kabar ini kepada dia, bahwa Hardiati ingin memukulnya. Imrani terkejut dan dengan hati yang marah, ia merespon berita ini dengan sebelah mata. Dia hanya berfikir kalau aku lebih baik bersama Hardianti, dan akhirnya dia meninggalkanku sama seperti apa yang dilakukan oleh Hardianti. Seandainya dia tau maksudku yang sebenarnya, namun semoga dia membaca ceritaku kelak dan memahami apa yang terjadi.

mau tau bagian cerita yang lainnya
tunggu selanjutnya dan jangan lupa miliki novelnya kelak :)

Saturday, 6 April 2013

aneh

membuat sebuah cerita ya mungkin itu adalah suatu jalan hidup yang aku jalani. aku sebenarnya tidak tau ingin bercerita tentang app aku ini. namun aku sangat yakin kalau ini adalah jalan hidup yang di takdirkan allah swt kepadaku sebagai hamba-Nya. untuk dari itu saya akan mencoba dari hal yang kecil ini membuat suatu karya tulis dalam sebuah blog ini. entah nama blog ini juga kurang keren karena hanya mengutip salah satu karakter jahat dari anime naruto yaitu seorang akatsuki bernamatobi atau dikenal dengan nama akatsuki obito. saya sebagai pemberi nama sendiri tidak tau akan ketertarikan apa yang membaut saya memberi nama seperti ini.

semoga dengan karya pertama saya teman-tean yang membacanya dapat mengerti dan terbawa kedalam suasana yang saya harapkan.

Friday, 22 March 2013

Pengertian Ilmu Hadits


A.     Definisi Ilmu Hadits
Menurut Prof. Dr. T.M Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ilmu Hadits” itu ialah : “Ilmu yang berpautan dengan hadits”[1]. Mengenai difinisi ini beliau kemukakan karena banyaknya ilmu yang mempelajari hadis tentang hadis dan jumlah hadis juga sangat banyak, selain itu masa pembukuannya dan penerbitannya di antara ilmu-ilmu hadits itu sendiri tidak dalam satu periode yang sama.
Ilmu Hadits menurut ulama Mutaqadimin adalah ilmu yang mempeajari tentang cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah SAW dari segi ihwal para periwayatnya, kedabitan, keadilan, dan dari segi bersambung tidak segi sanadnya dan sebagainya.[2]
Ilmu Hadits menurut ulama Mutaakhirin terbagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits riwayah dan imu hadits dirayah. Kedua ilmu inimerupakan batasan yag sudah ditetapkan oleh para ulama-ulama mutaakhirin. Berikut ini adalah penjabaran dari keduanya, sebagai berikut:
1.      Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu Hadits Riwayah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabi’at maupun tingkah lakunya. Ada pula  menurut Ibn al-akfani sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi yang saya dapatkan dari buku Ilmu Hadis milik Drs. H. Muinzer Suparta M.A yaitu “ilmu pengetahuan yang mencangkup perkataan dan perbuatan Nabi SAW, baik periwayatannya, pemeliharaannya, maupun penulisan ataupun pembukuan lafaz-lafaznya”. Menurut jumhur ulama sendiri bahwa yang dimaksud Ilmu Hadits Riwayah ialah suatu ilmu untuk mengetahui sabda-sabda Nabi SAW, perbuatan Nabi, taqrir-taqrir Nabi dan sifat-sifat Beliau. Dengan kata lain yang dimaksud oleh para jumhur ulama ialah Ilmu yang membahas segala sesutu yang datang dari Nabi, baik sabdanya, perbuatannya, taqrirnya, dan sabagainnya.[3] Meurut ulama Tahqiq Ilmu Hadits Riwayah adalah ilmu yang membahas cara penyambungan hadits kepada shahih al-risalah, junjungan kita Nabi Muhammad SAW dari segi keadaan para perawinnya, mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka dan dari segi keadaan sanad, putus dan berrsambungnya dan sepertinya.[4]
Objek kajian hadits riwayah adalah bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain, dan memindahkan atau mendewankan. Dalam penyampaian dan penulisan harus disampaikan apa adanya, baik yang berkaitan dengan sanad dan matannya. Ilmu ini tidak menjabarkan tentang syadz (kejanggalan) dan ‘illat (kecacatan) matan hadits. Kemudian didalam sini juga tida membahas tentang kualitas para perawi, keadilan, kebatinan maupun fisiknya.
Faedah dari mempelajari lmu hadis riwayah ini adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya yang pertama, yaitu Nabi Muhammad SAW. Menurut Syuhdi Ismail dalam bukunya Pengantar Ilmu Hadits faedah dan tujuan untuk mempelajari Hadits Riwayah adalah untuk mengertahui segala sesuatu yang berpautan dengan pribadi nabi dalam usaha memahami dan mengamalkan ajaran beliau guna memperoleh kemenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Menrut Ismil dalam bukunya tadi ulama yang terkenal atau menjadi seorang pelopor dalam hal Hadits Riwayah ini Muhammad Ibnu Syihab Az-Zuhry. Beliau ini adalah yang pertma-tama menghimpun hadits-hadits Nabi atas perintah Umar bin Abdul Aziz pada masa pemerintahannya. Beiau ini terkenal karena hafalannya yang sudah masyhur, hal ini telah diakui oleh para ulama pada saat itu. Imam Bukhari pernah menyatakan bahwa az-zuhry mampu menghafal Al-Quran hanya dalam tempo 80 malam. Hisyam bin Malik pernah meminta tolong kepada Az-Zuhry untuk menuliskan hadits-hadits Nabi untuk keperluan, sekitar 400 hadits ia diktekan kepada beliau. Setelah selang waktu 1 bulan catatan itu hilang, kemudian Hisyam meminta Az-Zuhry mendiktekannya kepada penulis, dan ternyata dua buah catatan dalam jangka waktu yang berbeda itu tidak ada perbedaan sedikitpun.
2.      Ilmu Hadits Dirayah
Ilmu Hadits Dirayah adalah  ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadits sifat-sifat hadits dan sebagainnya.[5] Ada jga yang mendifinisikan Imu Hadits Dirayah adalah ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syarat, macam-macam, hukum-hukumnya serta untuk mengetahui keadaan para perawi, baik syarat-syratnya, macam-macam hadits yang diriwayatkan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.[6]
Objek kajian dari Ilmu Hadits Dirayah ini ialah keadaan para perawi dan marawiya. Pengertian keadaan disini dimaksudkan bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepribadiannya, semisal akhak, tabi’at, dan keadaan hafalan. Sedangkan yang dimaksud dengan marwi adalah kesashihan, kedhaifan, dan dari sudaut ain yang berkaitan dengan matan[7].
Banyak hal yang dapat kita dapatkan dari mempelajari Ilmu Hadits Dirayah, diantaranya yaitu faedahnya. Faedah yang didapatkan setelah mempelajari Ilmu Hadits Dirayah, diantaranya:
a.       Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan hadits dan ilmu hadits dari masa kemasa mulai dari masa Rasulullah sampai saat ini.
b.      Dapat mengetahui tokoh-tokoh serta usaha-usaha yag telah mereka lakukan dalam mengumpulkan, memelihara, dan meriwayatkan hadits.
c.       Mengetahui kaidah-kaidah yang dipergunakan para ulama-ulama dalam mengklasifikasi hadits lebih lanjut.
d.      Dapat mngetahui istilah-istilah, nilai-nilai, dan kriteria hadits-hadits sebagai pedoman dalam beristinbath.
e.       Mengetahui kualitas sebuah hadits.[8]
f.        Untuk mengetahui dan menetapkan tentang maqbul (dapat diterima) dan mardud (tertolak) suatu hadits Nabi SAW.
g.       Sebagai mizan (neraca) yang dipergunakan untuk menghadapi Hadits Riwayah.[9]
Dalam hal tokoh Hadits Dirayah juga memiliki berbagai tokoh penting, diantaranya yaitu Al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzy dan masih banyak lagi yang lainnya.


[1] Ismail, Syuhudi. Pengantar Ilmu Hadits, 2011. (Bandung; Angkasa) halaman 61
[2] Suparta, Muinzer. Ilmu Hadis, 2011. ( Jakarta; Rajawali Pers)  halaman 24
[3] Op.cit. ismail, Syuhudi. Halaman 62.
[4] Ash- Shiddieqy. Ilmu hadits, 2009. (Semarang: Pustaka Riski Putra) halaman 111.
[5] Op.cit  ismail, Syuhudi. Halaman 62
[6] Op.cit. Suprapta, Muinzer. Halaman  26.
[7] Ibid halaman 27
[8] Ibid Halaman 28.
[9] Op.cit. ismail, Syuhudi. Halaman 63