Friday, 22 March 2013

Pengertian Ilmu Hadits


A.     Definisi Ilmu Hadits
Menurut Prof. Dr. T.M Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ilmu Hadits” itu ialah : “Ilmu yang berpautan dengan hadits”[1]. Mengenai difinisi ini beliau kemukakan karena banyaknya ilmu yang mempelajari hadis tentang hadis dan jumlah hadis juga sangat banyak, selain itu masa pembukuannya dan penerbitannya di antara ilmu-ilmu hadits itu sendiri tidak dalam satu periode yang sama.
Ilmu Hadits menurut ulama Mutaqadimin adalah ilmu yang mempeajari tentang cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah SAW dari segi ihwal para periwayatnya, kedabitan, keadilan, dan dari segi bersambung tidak segi sanadnya dan sebagainya.[2]
Ilmu Hadits menurut ulama Mutaakhirin terbagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits riwayah dan imu hadits dirayah. Kedua ilmu inimerupakan batasan yag sudah ditetapkan oleh para ulama-ulama mutaakhirin. Berikut ini adalah penjabaran dari keduanya, sebagai berikut:
1.      Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu Hadits Riwayah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabi’at maupun tingkah lakunya. Ada pula  menurut Ibn al-akfani sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi yang saya dapatkan dari buku Ilmu Hadis milik Drs. H. Muinzer Suparta M.A yaitu “ilmu pengetahuan yang mencangkup perkataan dan perbuatan Nabi SAW, baik periwayatannya, pemeliharaannya, maupun penulisan ataupun pembukuan lafaz-lafaznya”. Menurut jumhur ulama sendiri bahwa yang dimaksud Ilmu Hadits Riwayah ialah suatu ilmu untuk mengetahui sabda-sabda Nabi SAW, perbuatan Nabi, taqrir-taqrir Nabi dan sifat-sifat Beliau. Dengan kata lain yang dimaksud oleh para jumhur ulama ialah Ilmu yang membahas segala sesutu yang datang dari Nabi, baik sabdanya, perbuatannya, taqrirnya, dan sabagainnya.[3] Meurut ulama Tahqiq Ilmu Hadits Riwayah adalah ilmu yang membahas cara penyambungan hadits kepada shahih al-risalah, junjungan kita Nabi Muhammad SAW dari segi keadaan para perawinnya, mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka dan dari segi keadaan sanad, putus dan berrsambungnya dan sepertinya.[4]
Objek kajian hadits riwayah adalah bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain, dan memindahkan atau mendewankan. Dalam penyampaian dan penulisan harus disampaikan apa adanya, baik yang berkaitan dengan sanad dan matannya. Ilmu ini tidak menjabarkan tentang syadz (kejanggalan) dan ‘illat (kecacatan) matan hadits. Kemudian didalam sini juga tida membahas tentang kualitas para perawi, keadilan, kebatinan maupun fisiknya.
Faedah dari mempelajari lmu hadis riwayah ini adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya yang pertama, yaitu Nabi Muhammad SAW. Menurut Syuhdi Ismail dalam bukunya Pengantar Ilmu Hadits faedah dan tujuan untuk mempelajari Hadits Riwayah adalah untuk mengertahui segala sesuatu yang berpautan dengan pribadi nabi dalam usaha memahami dan mengamalkan ajaran beliau guna memperoleh kemenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Menrut Ismil dalam bukunya tadi ulama yang terkenal atau menjadi seorang pelopor dalam hal Hadits Riwayah ini Muhammad Ibnu Syihab Az-Zuhry. Beliau ini adalah yang pertma-tama menghimpun hadits-hadits Nabi atas perintah Umar bin Abdul Aziz pada masa pemerintahannya. Beiau ini terkenal karena hafalannya yang sudah masyhur, hal ini telah diakui oleh para ulama pada saat itu. Imam Bukhari pernah menyatakan bahwa az-zuhry mampu menghafal Al-Quran hanya dalam tempo 80 malam. Hisyam bin Malik pernah meminta tolong kepada Az-Zuhry untuk menuliskan hadits-hadits Nabi untuk keperluan, sekitar 400 hadits ia diktekan kepada beliau. Setelah selang waktu 1 bulan catatan itu hilang, kemudian Hisyam meminta Az-Zuhry mendiktekannya kepada penulis, dan ternyata dua buah catatan dalam jangka waktu yang berbeda itu tidak ada perbedaan sedikitpun.
2.      Ilmu Hadits Dirayah
Ilmu Hadits Dirayah adalah  ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadits sifat-sifat hadits dan sebagainnya.[5] Ada jga yang mendifinisikan Imu Hadits Dirayah adalah ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syarat, macam-macam, hukum-hukumnya serta untuk mengetahui keadaan para perawi, baik syarat-syratnya, macam-macam hadits yang diriwayatkan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.[6]
Objek kajian dari Ilmu Hadits Dirayah ini ialah keadaan para perawi dan marawiya. Pengertian keadaan disini dimaksudkan bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepribadiannya, semisal akhak, tabi’at, dan keadaan hafalan. Sedangkan yang dimaksud dengan marwi adalah kesashihan, kedhaifan, dan dari sudaut ain yang berkaitan dengan matan[7].
Banyak hal yang dapat kita dapatkan dari mempelajari Ilmu Hadits Dirayah, diantaranya yaitu faedahnya. Faedah yang didapatkan setelah mempelajari Ilmu Hadits Dirayah, diantaranya:
a.       Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan hadits dan ilmu hadits dari masa kemasa mulai dari masa Rasulullah sampai saat ini.
b.      Dapat mengetahui tokoh-tokoh serta usaha-usaha yag telah mereka lakukan dalam mengumpulkan, memelihara, dan meriwayatkan hadits.
c.       Mengetahui kaidah-kaidah yang dipergunakan para ulama-ulama dalam mengklasifikasi hadits lebih lanjut.
d.      Dapat mngetahui istilah-istilah, nilai-nilai, dan kriteria hadits-hadits sebagai pedoman dalam beristinbath.
e.       Mengetahui kualitas sebuah hadits.[8]
f.        Untuk mengetahui dan menetapkan tentang maqbul (dapat diterima) dan mardud (tertolak) suatu hadits Nabi SAW.
g.       Sebagai mizan (neraca) yang dipergunakan untuk menghadapi Hadits Riwayah.[9]
Dalam hal tokoh Hadits Dirayah juga memiliki berbagai tokoh penting, diantaranya yaitu Al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzy dan masih banyak lagi yang lainnya.


[1] Ismail, Syuhudi. Pengantar Ilmu Hadits, 2011. (Bandung; Angkasa) halaman 61
[2] Suparta, Muinzer. Ilmu Hadis, 2011. ( Jakarta; Rajawali Pers)  halaman 24
[3] Op.cit. ismail, Syuhudi. Halaman 62.
[4] Ash- Shiddieqy. Ilmu hadits, 2009. (Semarang: Pustaka Riski Putra) halaman 111.
[5] Op.cit  ismail, Syuhudi. Halaman 62
[6] Op.cit. Suprapta, Muinzer. Halaman  26.
[7] Ibid halaman 27
[8] Ibid Halaman 28.
[9] Op.cit. ismail, Syuhudi. Halaman 63

No comments:

Post a Comment